Di Indonesia, kita sudah kenal produk-produk legendaris, sebut saja Dji Sam Soe, Puyer Bintang Toedjoe No. 16, Bank BRI, dan lain sebagainya. Brand tersebut lahir jauh sebelum dekade 1950an, dan telah juga sukses ketika itu karena dikendalikan oleh marketer handal dan visioner, yang mungkin tidak pernah baca buku teks marketing.
Tan Jun She, contohnya, di akhir tahun 1940an setelah mendirikan perusahaan farmasi Bintang Toedjoe, seakan sudah mengerti "predictive analysis" bahwa obat Puyer No.16 akan laku keras di pasar, sehingga berani menambah kapasitas pabriknya. Obat Puyer ini kemudian menjadi dalam hitungan waktu singkat, langsung laku keras di pasaran.
Contoh lain marketer handal adalah Lim Seeng Tee. Pendiri perusahaan rokok HM Sampoerna ini menjalankan prinsip bisnisnya dengan bersender pada Falsafah Tiga Tangan (Perusahaan, Pedagang, dan Konsumen), sebuah prinsip yang kini kita kenal di dunia bisnis dan marketing sebagai stakeholders theory.
LewatFalsafah Tiga Tangan yang dijunjung tinggi dari sejak awal ini, Lim Seeng Tee percaya bahwa untuk menuju kesuksesan, harus ada kesinambungan dan hubungan timbal balik yang win-win-win antara ketiganya, demi tercapainya kepuasan dan keberuntungan bersama.
Alasan kenapa mereka mungkin tidak pernah baca buku teks marketing adalah semata-mata karena marketing sebagai konsep disiplin ilmu belumlah ‘ditemukan.’ Di Indonesia, pengertian mengenai konsep marketing yang baik dan benar baru ada setelah tahun 1990an seiring dengan masuknya kita di era globalisasi. Di negeri Paman Sam dan dunia barat pada umumnya, Marketing baru ‘tercipta’ belum terlalu lama.
Marketing sebagai disiplin ilmu, bisa dibilang, tidak akan tercipta kalau tidak ada Philip Kotler. "Kitab suci" berjudul "Marketing Management"—yang kini dipakai di hampir seluruh perguruan tinggi di dunia—yang dirilis pertama kali pada tahun 1967, adalah kejeliannya dalam meramu empat fondasi ilmu yaitu teori ekonomi pasar, teori organisasi, teori psikologi konsumen, dan teori matematika.
Pengertian marketing sebelum munculnya kitab suci "Marketing Management" lebih bersifat deskriptif dan preskriptif, tanpa ada teori yang jelas. Deskriptif dalam artian banyak orang yang menjelaskan marketing ketika itu dengan semata-mata hanya membahas dengan gamblang, misalnya, apa yang dilakukan oleh seorang salesman, apa yang dilakukan oleh distributor, dan sebagainya. Juga preskriptif dalam artian, misalnya, seorang salesman yang baik akan melakukan lima hal: A, B, C, D, E.
Walaupun teorinya baru terbentuk dengan jelas sejak Marketing Management oleh Kotler dirilis tahun 1967, bukan berarti praktek marketing belum ada sebelum itu. Pastinya sudah ada. Bukan saja di Amerika sana, tapi di seluruh dunia, orang-orang sudah melakukan praktek pemasaran, meskipun tidak ada konsep teori yang baku dan jelas.
Marketing: Where it has been?
Kotler sendiri adalah seorang ekonom, yang langsung dididik oleh professor ilmu ekonomi terbaik yang pernah ada di dunia, sebut saja Milton Friedman, Paul Samuelson, dan Robert Solow, yang semuanya adalah peraih Nobel di dalam ilmu ekonomi.
Maka tak heran kalau Kotler mengatakan bahwa marketing adalah bagian dari ilmu ekonomi. Sebagaimana yang ia katakan "It’s the economics of the market place…. I’d like to call it "Market-economics." Meskipun demikian, Kotler juga tak pungkiri bahwa disiplin ilmu lain seperti sosiologi dan psikologi, juga erat kaitannya dalam pembentukan ilmu marketing.
Di dalam rangkaian tur promosi bukunya baru-baru ini, Kotler selalu berbicara tentang masa depan marketing. Kebetulan pertanyaan klasik "quo vadis ilmu marketing?" di tengah gejolak lanskap yang berubah total di era millennium baru ini sudah dijawab olehnya bersama tim MarkPlus dalam pemikiran terbaru mereka mengenai Marketing 3.0.