Hari hari belakangan ini dalam semua media tidak akan pernah lepas dari berita yang terkait dengan Kasus Mafia hukum yang mengerucut menjadi Mafia pajak dengan aktor utama Gayus Tambunan (GT). Walau sampai dengan saat ini GT belum memberikan statement resmi apapun berkaitan dengan kasusnya kepada publik, namun pemberitaannya sungguh luar biasa dan cenderung berlebihan. Yang menarik adalah selain GT terdapat, satu sosok juga yang selalu ada di dalam pemberitaan dan beliau ini bahkan harus selalu memberikan statement.
Adalah Bpk Irjen Edward Aritonang selalu Kepala Divisi Humas Polri yang harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan terkait masalah ini walaupun sebenarnya tugas beliau juga lebih luas dari seputar kasus mafia pajak ini. Setiap saat di televisi kita bisa melihat wajah beliau, kadang pagi, siang, malam, bahkan dinihari baik, dengan pakaian kepolisian maupun tidak. Terkadang sebagai pemirsa, sering juga terlintas di benak saya kapan Beliau ini tidur, berkumpul dengan keluarga, beribadah dll. Tapi yang pasti setiap kata yang terucap dari beliau bukan mencerminkan dirinya saja namun lebih dari itu, karena menjadi cerminan “image” dari Kepolisian. Tentu bukan hanya perlu menguasai kasus posisi dan perkembangan kasus yang terjadi untuk bisa memberikan image yang baik, melainkan juga cara beliau mengkomunikasikan isi informasi yang disampaikan.
Jika saya perhatikan dalam beberapa “penampilan” beliau di televisi, pesan yang disampaikan sangat jelas, tegas dan tidak terkesan menutup-nutupi fakta yang ada sehingga saya yang mengikuti perkembangan inipun dapat dengan mudah mengerti perkembangan yang ada.
Dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan media khususnya televisi ada metode yang dapat digunakan yang disebut metode F A C E.
1.F = Feelings,
Ketika acara duka cita di rumah Alm Gus Dur, seorang reporter salah satu televisi swasta ada yang menyampaikan laporannya tetap dengan senyuman gembira khasnya, yang tentunya membuat pemirsa melihat adanya ketidaksesuain antara pesan yang disampaikan dengan Perasaan Pembicara (reporter) yang menyampaikan. Pastikan saat kita hendak berkomunikasi sesuaikan pesan dengan Feelings yang disampaikan.
2.A=Analysis
Banyak saat ini yang ingin tampil memberikan keterangan di televisi namun analisa yang dilakukan didasarkan pada asumsi. Asumsi bukanlah fakta, pastikan bahwa apa yang hendak anda katakan berdasarkan fakta sehingga ketika diadakan cross examination dapat dibuktikan, kecuali di acara infotainment tentunya
3.C=Compelling Cs (Crisis Conflicts Crimes, etc)
Klasifikasikan masuk ke dalam kategori manakah Pesan yang ingin disampaikan, dan di media serta segmen apa. Dengan mengetahui kategori, dan segmen media kita dapat menyampaikan pesan yang sama dengan cara yang berbeda sesuai dengan kategoriasi dan segmentasi yang telah dilakukan. Kasus Gayus Tambunan tidak akan sama cara memaparkannya di acara Apa Kabar Indonesia dengan di acara Bukan Empat Mata.
4.Energy
Energy harus selalu kita tampilkan saat kita menyampaikan pesan, yang dapat menyentuh Hati pemirsa sehingga terjalin hubungan emosional walaupun antara pemirsa dan pembicara tidak saling mengenal. Energi bisa didapat dari “Passion” dan Antusiasme.
Tentu bukan hanya tugas Bpk Edward Aritonang yang perlu untuk memberikan pesan kepada masyarakat, namun juga seluruh jajaran POLRI khususnya Humas POLRI.
Begitu juga kita marketeers, ketika kita dihadapkan situasi untuk memberikan informasi kepada media, kita bisa katakan i’ll FACE it. Ingat bahwa What u said determined your image.
Valentino Simanjuntak
Sport&business Presenter
Communication Facilitator MIM