Bursa handphone di tanah air mengalami signifikansi peningkatan yang sangat tinggi. Betapa tidak, banyak sekali ponsel-ponsel bertebaran dengan harga yang sangat terjangkau. Jika dahulu kita harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mendapatkan handphone dengan fitur wifi, internet acces, Bluetooth, mega pixel camera, music dan memiliki stylis yang wah, sekarang tidak lagi. Cukup dengan menyiapkan dana 500ribu sampai dengan maksilmal 2juta, maka handphone dengan fitur yang berbagai macam pun sudah dalam genggaman.
Mengapa harga handphone bisa sedemikian jatuh?
Hal tersebut bukanlah lagi menjadi kejutan, pasaran handphone sekarang ini sudah sangatlah ketat. Jika kita menghitung hitung vendor yang telah bermain di pasaran handphone, maka jumlahnya melebihi jumlah operator yang ada. Jika selama ini kita menyaksikan operator yang selalu price war, maka anda saat ini tengah meraasakan price war pada vendor handphone. Jika dihitung hitung, maka jumlah merek handphone yang beredar di tanah air ini mencapai lebih dari 10 jenis handphone.
Luar biasa bukan?
Persaingan menjadi semakin sengit dan mungkin harga ini kasian sekali soalnya di banting-banting. Semua pada jatuh. Misalnya adalah handphone QWERTY yang belakang ini banyak seri yang beredar. harga 500ribu bahkan kurang dari harga tersebut sudah bisa dalam genggaman. Sangat murah bukan? Saya sendiri sampai heran. Namun ponsel tersebut hanya didapat dari merek yang notabene adalah china.
Mari kita berpikir sejenak dan bertanya dalam hati, mana ada sih barang china yang mahal?
Barang elektronik pabrikan China memang sangat murah dan mungkin saat kita mengetahui harganya semurah itu, sebagian dari kita akan tidak percaya dengan harga tersebut, tapi kenyataannya anda harus percaya dengan hal itu. Mengapa? Iya, produk China menggunakan bahan yang sangat murah dan kualitas bahannyapun lebih rendah daripada produk lainnya. Hal lainnya adalah tenaga kerja di China yang sangat murah dibandingkan dengan Negara lainnya, hal tersebut membuat barang China lebih murah daripada lainnya termasuk handphone.
Kita kembali lagi ke pembahasan awal mengenai handphone.
Seperti yang sudah saya katakan di awal bahwa brand handphone di tanah air ini suudah sangatlah banyak sampai-sampai bisa dikatakan price war. Brand yang sudah berlevel international dan merupakan rajanya handphone internasional juga sampai mengaku berpikir ekstra keras untuk menghadapi persaingan yang sangat ketat.
Persaingan sengit terlihat pada handphone model QWERTY, gara-gara lagi booming dan meledak dipasaran penjualan model tersebut, sampai-sampai brand asal Finlandia tersebut menurunkan harga gila-gilaan, contoh nyata adalah jenis e63, sebelum adanya perang harga yang gila-gilaan, harganya mencapai 3 jutaan waktu pre launching, saya sendiri waktu itu pada desember 2009 beli dengan harga 1.980ribu. Dalam rentang waktu 2 bulan harganya turun drastic hanya 1580ribu sampai sekarang.
Saya mencoba menganalisis dari sisi marketing apa yang membuat produk China ini makin digemari dari hari ke hari. Tidak dipungkiri lagi, HK pernah menyebutkan bahwa produk China dipasarkan dengan menggunakan me too-marketing. Me too marketing ini menurut hermawan merupakan strategi yang ngikut arus, model dan jaman. Jadi bukannya membuat suasana sendiri. Masih untung kalo tidak menggunakan strategi “cheaper than”. Kalau sudah memakai strategi itu jadilah destructive marketing.
Destructive marketing merupakan suatu kondisi dimana akan terjadi perang harga gila-gilaan seperti yang sudah saya sebutkan tadi. Nah, rupanya pemain China ini pintar juga dalam memanfaatkan situasi, masyarakat Indonesia kan orangnya berkarakter suka meniru, jadi kalau ada yang lagi ngeboom, pasti diikuti, dan rupanya ini mirip dengan tujuan dari pemain bisnis China ini. Perlahan namun pasti customer mulai berpaling ke produk China, walau dari sisi kualitas memang lebih unggul produk yang ditiru.
Saya pernah membaca sebuah artikel tentang posisi produk china di pasaran, dimana disitu dikatakan bahwa orang-orang yang menjual murah barang produk mereka untuk dapat bersaing dengan produk yang sudah settle, nah setelah mendapatkan posisi mereka akan memainkan peran sebagai market controlled dimana pasar akan dikendalikan.
Bagi marketer yang kreatif tentunya hal ini harus segera diantisipasi karena startegi frontal jika di lawankan dengan strategi yang kreatif pastinya akan dimenangkan oleh strategi yang kreatif. Strategi yang digunakan oleh China sebenarnya adalah frontal yang tersistematis. Dan hal tersebut jika dibiarkan begitu saja akan menjadi boomerang bagi produk-produk yang sudah settle di bidangnya.
Hanya saja saya kok sangat yakin jika produk China ini akan menjadi the Leader phone in the next generation. Bisa dilihat dari menjamurnya produk-produk China di pasaran, walaupun masih kalah bersaing dengan produk yang branded semacam Nokia, Samsung, SE dan lainnya. Setidaknya jika terus konsiten melakukan serangan demi serangan sehingga merepotkan pemain lama, jelas bukan tidak mungkin produk ponsel China akan menjadi raja di Indonesia. Kita tunggu saja paling lama 5 tahun mendatang.