This text will be replaced. Streaming solutions by Primcast - Shoutcast hosting, Flash Streaming
Marketeers, Monday,November 24 2014

Manifesto

Tiga Kekuatan Pemasaran Kemenangan Obama

November 23 2012 | By Sigit Kurniawan
Sumber Ilustrasi: http://www.addictinginfo.org


Apa persamaan dan perbedaan Obama dengan Hosni Mubarak, Ben Ali, dan Moamar Qadafi? Persamaanya, semua pemimpin negara tersebut hidup di tengah euforia Twitter. Perbedaanya, Obama naik daun berkat Twitter. Sedangkan Hosni Mubarak, Ben Ali, Qadafi tumbang lantaran Twitter.

Pernyataan di atas memang hiperbolis. Tidak sesimpel itu sejatinya.  Tapi, paling tidak, ada penekanan bahwa media sosial seperti Twitter memiliki pengaruh kepada nasib para pemimpin tersebut. Sejak kemenangan Obama pada tahun 2008, media sosial menjadi populer dalam kampanye politik di Negeri Paman Sam tersebut. Hal yang sama juga dilakukan pada pemilihan presiden bulan lalu yang akhirnya memilih kembali Obama sebagai presiden AS dengan mengalahkan Mitt Romney.

Sebagai personal brand, Obama memang fenomenal. Sebagai sebuah merek, terpilihnya Obama kembali menjadi bukti pelanggan—dalam hal ini warga AS—masih menjadi pelanggan loyalnya. Bahkan, pelanggannya tidak hanya sebatas teritori geografis negara AS seluas 9,8 juta km2 itu. Tapi, meluas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satunya terungkap di laman-laman media sosial, seperti Twitter.

Penulis legendaris Brazil Paulo Coelho, misalnya, menyatakan di Twitter sehari sebelum pemilu, seandainya dirinya jadi orang AS, dia bakal memilih Obama. Bahkan, hajatan demokrasi di AS itu seakan menjadi hajatan seluruh dunia. Banyak mata menonton siaran langsung penghitungan suara, termasuk menyaksikan pidato kemenangan Obama. Dunia terasa benar-benar datar – the world is flat – melalui  jaring-jaring Internet, YouTube, media sosial, televisi satelit, dan sebagainya.

Tiga Kekuatan

Mengapa Obama masih dicintai? Tak lain karena Obama bisa menempatkan diri sebagai sosok yang bisa menjawab kebutuhan dan tren dunia saat ini. Paling tidak ada tiga pergeseran di tingkat global dalam dunia yang hampir sepenuhnya baru ini—a whole new world. Pertama, pergeseran dari vertikal ke sosial. Kedua, pergeseran dari eksklusif ke inklusif. Ketiga, pergeseran dari individual ke sosial.

Sebagai pemimpin yang horisontal, Obama tidak pernah memerintah dengan tangan besi. Era kepemimpinan tangan besi sudah berakhir sejak merebaknya Arab Spring– era di mana warga memiliki kekuatan horisontal untuk menggulingkan pemerintahan tangan besi. Selama kepemimpinannya, Obama senantiasa mengajak semua pihak kembali ke konstitusi Amerika Serikat yang mengusung kesetaraan.

Salah satu upayanya adalah meningkatkan partisipasi semua rakyat dalam pembangunan ekonomi dan mengupayakan kesetaraan gaji bagi perempuan. Sementara itu, banyak analis menyimpulkan kemenangan Obama pada pilpres lalu tidak jauh dari dukungan perempuan.

Dua hal kebijakan Obama yang dinilai memikat kaum perempuan adalah jaminan kesehatan dan pensiun serta kebijakan soal Timur Tengah. Obama dinilai lebih sensitif pada kepentingan perempuan. Kebijakan Obama menarik pasukan dari Timur Tengah, kata analis, mendapat apresiasi kaum ibu yang kehilangan anak-anak mereka dalam perang. Dalam kajian New Wave Marketing, perempuan merupakan salah satu subkultur yang menggerakan dunia saat ini, di samping anak muda dan netizen. Mereka yang bisa mengambil hati perempuan akan menguasai marketshare. Obama membuktikan hal itu.

Kesetaraan ini juga dikemas oleh Obama dalam setiap pidatonya. Pidato rivalnya Mitt Romney lebih terkesan kaku, bertele-tele, sekaligus membosankan. Tapi, pidato-pidato Obama lebih terkesan horisontal, fleksibel, dan mengena.

Selain itu, Obama juga berhasil merangkul banyak kalangan yang beraneka ragam di AS. Inklusivitas Obama ini ditunjukkan dengan menggandeng banyak orang dari berbagai kelompok. The Washington Post pernah merilis riset terkait inklusivitas para kandidat presiden. Riset  itu mengatakan Partai Republikan yang dikenal dengan Grand Old Party (GOP), partai pendukung Romney, tampak terikat oleh pihak ekstrimis “Tea Party” yang didominasi (92%) oleh kulit putih.

Sementara, Partai Demokrat pengusung Obama lebih bersifat pluralis—mengusung kemajukan etnis, seperti Hispanik, Asia-Amerika, Afro-Amerika, dan sebagainya. Obama juga berhasil menjadi sosok pemimpin yang bisa merangkul kelas menegah bawah dan minoritas di AS. Termasuk mereka yang sering terpinggirkan hak-haknya, seperti tuna wisma, kaum LGBT, migran, dan sebagainya.  Hal ini dipertegas dalam pidato kemenangannya November lalu bahwa semua warga dengan segala latar belakang adalah satu warga AS.

Inklusivitas Obama juga ditunjukkan dengan kebijakan politik luar negerinya yang merangkul kawasan lain, khususnya kawasan Asia-Pasifik. Khususnya, kebijakan Washington dengan realitas baru di mana kawasan Asia-Pasifik mulai bersinar pertumbuhan ekonominya. Termasuk ketika Obama mulai menggandeng komunitas-komunitas Muslim dunia yang selama ini dipandang beroposisi dengan AS.

Amerika pun  mulai memandang kekuatan ekonomi mulai menyebar ke berbagai negara berkembang. Apalagi Amerika dan Eropa masih dalam taraf pemulihan akibat krisis finansial. Inklusivitas ini pula yang membuat Obama mendapat dukungan menjadi presiden AS kembali dari aneka komunitas dunia tersebut.

Sementara, sisi sosial Obama juga ia tunjukkan dengan keterbukaan, keterhubungan, dan keinginan bersahabat dengan siapa saja. Media-media sosial yang mengusung konektivitas digunakan Obama untuk terhubung dengan banyak pihak, khususnya warga AS. Twitter dan Facebook, misalnya, ia gunakan untuk membangun konektivitas tersebut. Obama pun mendapatkan banjir ucapan selamat banyak orang dari berbagai negara dengan segala latar belakang melalui Twitter dan Facebook.

Paling tidak, ada satu pelajaran yang bisa dibungkus dari fenomena Obama ini. Siapa saja, entah pemimpin atau merek, bila ingin diterima oleh pasar sekarang ini harus bisa mengeksekusi tiga hal, yakni inklusivitas, sosial, dan horisontal.

 

 

Sigit Kurniawan

Writer, Journalist, Free Thinker. Twitter: @sigit_kurniawan

View Profile

Multimedia

marketeers quote of the day

Keep love in your heart. A life without it is like a sunless garden when the flowers are dead.

-Oscar Wilde-